Rabu, 08 Februari 2012

SuperR(edy) SuperD(essy)

        Siang kira-kira jam perlajaran ke 5 tepatnya pukul 10.40. Bu murni masuk kelas. Sekalian ngumpul pr yang kemaren dikasih ibu diatas meja coklat depan tempat dudukku dan dessy yang memiliki sedikit bolongan disisi kanan, kami gatau sebab akibatnya darimana.

“Siap ini kita keperpustakaan, tapi cuma yang ngumpul pr aja yang kebawah,”kata ibu.

Seperti biasa anak cowok baris belakang mengeluh karena sering ataupun kadang tidak siap ngerjai tugas (maap bagi teman yg merasa). Aku dan kawan-kawan, atau lebih kerennya dkk turun bareng layaknya hari biasa selalu bersama dalam suka duka. Sesampainya di perpus, kami langsung nyari novel angkatan 20-an 30-an yang ibu suruh di kelas tadi. Kami disuruh baca sampe tamat cerita,abis itu buat sinopsis dari novel tersebut. Dempet-dempetan kayak naik bus Jakarta yang super sempit nyari novel yang disuruh. Dessy heboh sendiri, teriak sendiri dan heboh sendiri (selo des). Kayak ngantri sembako. Bahu ke bahu,lengan ke lengan. Bedempet. Setelah mencari novel di rak bagian sastra, aku keluar dari barisan sempit menghindari dempetan tersebut. Duduk di kursi. Menyuruh danti duduk disebelahku. Karena kami sedikit recok ataupun busa dibilang lumayan recok.

Ibu beberapa kali negur,”heh, kalian disuruh baca, bukannya ngobrol”.

Mungkin sampai 3 atau 2 kali. Yuni pas duduk didepan mukaku (bukan berarti dia memantati). Membuka lembar pertama. Baca karya sastra agak beribet. Sedikit kurang paham isinya. Mungkin kalo meli datang hari itu, bakalan curhat, ngobrol, curhat, ngobrol, curhat, dst. Berjalan 30-45 menit kemudian sampai jam 11.45.

Dan 5 menit kemudian….

Tita permisi ke toilet. Tiba-tiba dia kembali sambil memberitahu kami kalau lidya terkunci di toilet pria, tapi  sering juga cewek masuk kedalam toilet tersebut, termasuk dia. Karena cewek aja yang baru tau, tak sengaja mungkin bu murni yang duduk di sisi bangku sekolah mendengar pembicaraan kami itu. Tanpa pikir panjang, ibu dan tita dan fifa dan akhirnya sebagian dari anak laki-laki ikut ke dalam toilet tersebut untuk membantu lidya. Karena penasaran, aku ikut dalam aksi penyelamatan itu. Beranjak dari bangku yang sudah tertempel cukup lama. Sampai dalam toilet, para cowok membantu mendobrak pintu. Tetap saja tidak bisa.
“Awas dari pintu lidya!”,seru ibu.

Anak cowok tetap berusaha mendobrak. Insting penyalamatan seorang redy pun muncul. Dia memanjat dinding ubin toilet itu. Dengan bantuan bebe yang mendorong bokongnya ke atas. Redy pun bisa mencapai puncak. Redy lompat ke dalam ruangan toilet tempat lidya terjebak (bukan berarti dia belut yang kena jebakan dalam kurungan). Akhirnya mereka berdua selamat dari rintangan dan berkat doa kami. Tepuk tangan kami dedikasikan kepada redy yang telah menolong seorang wanita berbehel, lidya. Kembali semuanya kedalam perpus. Lidya masih nangis, mungki karena masih shock dengan musibah yang dialaminya.

Sambil  berkata, “Tadi pintunya gabisa tebuka wee…”.

Kurang lebih seperti itu keluhnya. Suasana kembali hening. Semua melanjutkan bacaan. Jam 12.05. Rencanaku sana danti setelah keluar dari perpus mau kekantin. Karena 12.10 udah jam kemusola. Saat keluar dari perpus, kami berdua yang diikutin oleh dessy dan anak cowok lain yang memiliki pemikiran yang sama, yaitu jajan. Dua langkah lagi samapi di kantin, dessy melihat dengan tanpa disengaja kea rah kucing yang berteduh dibawah samping ban mobil. Kata dessy, dia kasian nanti telindas kucing itu. Rasa simpati itu muncul, dia langsung memindahkan kucing itu ke tempat yang lebih aman. Satu lagi kejadian heroik dihari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar